Friday, March 23, 2018

Pengantar


Kadang kita didera keinginan untuk menggapai mimpi yang senantiasa menggelayut, membayangi kemanapun kita melangkah. Saat mimpi itu menjadi sebuah momok yang menakutkan maka bawah sadar kita yang akan berteriak dan berontak. Sebuah ekspresi bawah sadar akan menyadarkan kita bahwa sebenarnya apapun yang kita pikirkan atau kita impikan pasti akan terungkap lewat segala tingkah laku dan ucapan kita.
  Sungguh sebuah beban yang tak mudah untuk dienyahkan, kala keinginan untuk mengungkapkan apa yang dipikirkan menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak. Sebuah hasrat yang selama ini hanya dinikmati sendiri. Kini saat hasrat yang menggebu itu butuh pelampiasan, arena tulis menulis menjadi sarana yang paling baik. Agar beban yang tersangga tak lagi menjadi beban yang menyesakkan. Karena yang diimpikan telah jadi kenyataan. Ketika alur-alur itu terungkapkan, yang ada tinggal kelegaan. Plong. Tak ada beban.
Tak ada hal yang tak mungkin tak ternikmati selama kita mampu menikmatinya. Insan-insan yang penuh perjuangan dan pengabdian untuk orang-orang yang merasa terpinggirkan. Acungan jempol yang paling pantas  buat kalian. Buat insan-insan yang dengan berani menjadi ujung tombak adanya perubahan, terutama bagi wanita-wanita di daerah-daerah pinggiran yang semula tak pernah terpikirkan. Gerak langkah itulah yang telah menjadi inspirasi buat cerita ini. Dengan kegigihan, dengan keikhlasan ternyata buah yang manis yang didapatkan. Bukan materi tapi nurani.

No comments:

Post a Comment

Menggapai Cakrawala

Novel Terbaru Imung H Santoso