Kadang kita didera keinginan untuk
menggapai mimpi yang senantiasa menggelayut, membayangi kemanapun kita
melangkah. Saat mimpi itu menjadi sebuah momok yang menakutkan maka bawah sadar
kita yang akan berteriak dan berontak. Sebuah ekspresi bawah sadar akan
menyadarkan kita bahwa sebenarnya apapun yang kita pikirkan atau kita impikan
pasti akan terungkap lewat segala tingkah laku dan ucapan kita.
Sungguh sebuah beban yang tak mudah untuk dienyahkan, kala keinginan
untuk mengungkapkan apa yang dipikirkan menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak.
Sebuah hasrat yang selama ini hanya dinikmati sendiri. Kini saat hasrat yang menggebu
itu butuh pelampiasan, arena tulis menulis menjadi sarana yang paling baik.
Agar beban yang tersangga tak lagi menjadi beban yang menyesakkan. Karena yang
diimpikan telah jadi kenyataan. Ketika alur-alur itu terungkapkan, yang ada
tinggal kelegaan. Plong. Tak ada beban.
Tak ada hal yang tak mungkin tak
ternikmati selama kita mampu menikmatinya. Insan-insan yang penuh perjuangan
dan pengabdian untuk orang-orang yang merasa terpinggirkan. Acungan jempol yang
paling pantas buat kalian. Buat
insan-insan yang dengan berani menjadi ujung tombak adanya perubahan, terutama
bagi wanita-wanita di daerah-daerah pinggiran yang semula tak pernah
terpikirkan. Gerak langkah itulah yang telah menjadi inspirasi buat cerita ini.
Dengan kegigihan, dengan keikhlasan ternyata buah yang manis yang didapatkan.
Bukan materi tapi nurani.
No comments:
Post a Comment