Yang ada dalam pikiran Satria.
”Sat... turun ke lobby... kutunggu...!”
Sat.... Sat... aku berdebar membaca sapaan itu. Hanya
seorang yang memanggilku dengan sapaan itu dan itu tak akan pernah bisa
kulupakan. Terbayang jelas wajah pemilik sapaan itu, tak pernah bisa
kusingkirkan. Sebuah nama terukir
di kalbu. Ini pasti kau... yaa aku yakin itu kau. Ahhh... tidak.... ini hanya illusiku belaka karena kerinduanku yang tak tertahankan. Tapi
aku tak ingin kehilangan harga diri bila harus mencarinya, menemuinya. Sat...
sapaan itu kembali terngiang-ngiang di telingaku. Berulang-ulang kututup
telingaku dengan kedua tanganku. Tak kunjung reda. Gila.... sudah gilakah
aku?
Kata hatiku.
Kangen?
Sementara ini aku tak merasakan apapun. Atau karena aku telah bertemu dengan
Satrio maka aku dengan mudah melupakan Elang? Ah ternyata demikian mudahnya
hatimu berpaling Rin. Dikala kau memburu Satrio tak juga bertemu kau terima
Elang apa adanya. Kini setelah kau temukan kembali Satriomu maka kau begitu
saja melupakannya. Tidak aku tidak melupakan Elang.
No comments:
Post a Comment