Friday, March 23, 2018

1. Satrio


Malam ini tak seperti biasa, lesu. Sejak siang aku sudah malas meladeni ajakan teman-teman, bahkan sekedar untuk ngobrol sebentar sebelum pulang ke rumah kami masing-masing. Tadi siang begitu selesai membereskan pekerjaan dan bersiap pulang aku langsung ngeloyor pergi. Pulang ke rumah, membanting badan di kasur tanpa lepas sepatu dan mengganti baju (hal ini jarang sekali kulakukan, karena aku tak mau dibilang jorok dan pemalas, tapi apa boleh buat, sekali ini saja…), sebentar memejamkan mata tapi tak tidur.  Sekedar melepaskan lelah sejenak. Meluruskan punggung.
Selintas wajah ibu hadir dengan senyum arifnya, berganti wajah bapak yang sabar, ponakanku yang centil amat, menggelayut di tanganku. Ah…kau nak…gadis kecil yang  selalu membuatku semakin rindu. Rindu? Rindu apa? Ah entahlah rindu apa, tapi sering kali bila kuingat wajah anak itu selalu saja ada rasa nyeri di dadaku. Memeluknya memberikan rasa nyaman di dadaku. Merindukannya membuatku tersenyum, hingga sering di tengah kepadatan pekerjaan aku menyempatkan pulang ke rumah ibu demi bisa memeluknya. Bocah kecil itu tak sungkan-sungkan memesan sesuatu padaku bila aku akan pergi. Dia paling suka memintaku untuk membelikannya assesoris rambut kalau aku pulang. Dan aku selalu tak bisa menolaknya.
“Budhe, bandoku mana? Budhe jadi beli yang pakai pita merah ada kupunya…?” sekali waktu dia menyerbuku, begitu aku turun dari mobil ketika melihatku pulang ke rumah ibu.
Tangannya yang mungil menggelayuti tangan kananku  sambil berceloteh, mencuri perhatianku.
“Cium Bhude dulu dong… !” kataku sambil berjongkok memberinya kesempatan buat mencium pipiku. Dia menciumku gemas, sambil memelukku erat.
“Eehmm…masih bau…belum mandi ya…?”
“Tadi pagi sudah…”
“Sore belum kan? Ayo mandi dulu, nanti kalau sudah wangi ke kamar Budhe ya..?”
“Tapi sama pita lho Budhe, harus dua lho!” katanya sambil berlalu mencari ibunya.
“Jangan kau manjakan anak itu Rin,” suara ibu di belakangku.
Aku menoleh dan memeluknya, tubuhnya makin kurus saja dalam perasaanku. Ibuku, orang yang paling kurindu. Beliau adalah wanita perkasa. Dengan tangannya beliau berusaha   menghidupi kami dengan segala kemampuannya, tanpa mengecilkan arti kehadiran bapak sebagai kepala keluarga. Tanpa ibu mungkin hidup kami akan lebih menderita.
.........

No comments:

Post a Comment

Menggapai Cakrawala

Novel Terbaru Imung H Santoso