Malam ini tak seperti biasa, lesu. Sejak siang aku sudah
malas meladeni ajakan teman-teman, bahkan sekedar untuk ngobrol sebentar
sebelum pulang ke rumah kami masing-masing. Tadi siang begitu selesai
membereskan pekerjaan dan bersiap pulang aku langsung ngeloyor pergi. Pulang ke
rumah, membanting badan di kasur tanpa lepas sepatu dan mengganti baju (hal ini
jarang sekali kulakukan, karena aku tak mau dibilang jorok dan pemalas, tapi
apa boleh buat, sekali ini saja…), sebentar memejamkan mata tapi tak
tidur. Sekedar melepaskan lelah sejenak.
Meluruskan punggung.
Selintas wajah ibu hadir dengan senyum arifnya, berganti
wajah bapak yang sabar, ponakanku yang centil amat, menggelayut di tanganku.
Ah…kau nak…gadis kecil yang selalu
membuatku semakin rindu. Rindu? Rindu apa? Ah entahlah rindu apa, tapi sering
kali bila kuingat wajah anak itu selalu saja ada rasa nyeri di dadaku.
Memeluknya memberikan rasa nyaman di dadaku. Merindukannya membuatku tersenyum,
hingga sering di tengah kepadatan pekerjaan aku menyempatkan pulang ke rumah
ibu demi bisa memeluknya. Bocah kecil itu tak sungkan-sungkan memesan sesuatu
padaku bila aku akan pergi. Dia paling suka memintaku untuk membelikannya
assesoris rambut kalau aku pulang. Dan aku selalu tak bisa menolaknya.
“Budhe, bandoku mana? Budhe jadi beli yang pakai pita
merah ada kupunya…?” sekali waktu dia menyerbuku, begitu aku turun dari mobil
ketika melihatku pulang ke rumah ibu.
Tangannya yang mungil menggelayuti tangan kananku sambil berceloteh, mencuri perhatianku.
“Cium Bhude dulu dong… !” kataku sambil berjongkok
memberinya kesempatan buat mencium pipiku. Dia menciumku gemas, sambil
memelukku erat.
“Eehmm…masih bau…belum mandi ya…?”
“Tadi pagi sudah…”
“Sore belum kan? Ayo mandi dulu, nanti kalau sudah wangi
ke kamar Budhe ya..?”
“Tapi sama pita lho Budhe, harus dua lho!” katanya sambil
berlalu mencari ibunya.
“Jangan kau manjakan anak itu Rin,” suara ibu di
belakangku.
Aku menoleh dan memeluknya, tubuhnya makin kurus saja
dalam perasaanku. Ibuku, orang yang paling kurindu. Beliau adalah wanita
perkasa. Dengan tangannya beliau berusaha
menghidupi kami dengan segala
kemampuannya, tanpa mengecilkan arti kehadiran bapak sebagai kepala keluarga.
Tanpa ibu mungkin hidup kami akan lebih menderita.
.........
No comments:
Post a Comment