Friday, March 23, 2018

2. Cari Brongkos Coy....

....
Kalau sudah berdebat kadang kami lupa waktu, Hanylah yang selalu jadi pemenang. Dia paling pintar mencari jawaban dan alasan. Sedangkan aku biasanya jadi  diam karena terpojok dan tak bisa menjawab lagi. Kami berangkat berboncengan, Hany di depan, aku jadi penumpang. Melintasi kota bermobil memang tidak nyaman. Terlalu banyak lampu merah, belum lagi situasi jalan yang ramai. Melintasi jalan Kusumanegara  suasana cukup ramai. Angin yang semilir kunikmati betul walau mataku terasa lebih pedih. Meliuk-liuk  sepanjang jalan di antara pengendara motor yang melintas. Kucubit pinggang Hany ketika dia dengan seenaknya meliukkan motornya terlalu tajam mendahului mobil di depannya. Dia hanya menggeliat dan tertawa.
”Takut Neng?” katanya tanpa mengurangi laju kendaraan.
”Aku belum mau mati...!”seruku mengatasi deru kendaraan.
”Tenang jam terbangku sudah tinggi koq...”
Aku diam saja, ketika kami sudah sampai di perempatan Bugisan barulah Hany mengurangi laju kendaraan. Menyusuri jalan depan Sekolah Menengah Seni, suasana lebih sepi, pedagang tanaman hias duduk santai di depan kiosnya sambil bercanda. Menikung kekiri sebelum jembatan sampailah kami di warung Pak Min.
Di warung yang sederhana itu, pengunjung sudah banyak, terlihat dari parkiran yang hampir penuh, beberapa pengunjung tak keluar dari mobil, hanya membuka pintunya saja. Masuk ke dalam tempat duduk hanya tersisa beberapa. Kami segera memilih makanan dan nasi brongkos tentu saja dan tak lupa teh poci.
Kami makan tanpa banyak basa-basi (karena tuntutan perut yang sudah terlalu lapar), sepiring nasi brongkos kami sikat habis tanpa sisa, dua potong tempe goreng tepung dan tak lupa kerupuk. Belum habis teh poci di depan kami, serombongan pengamen datang dengan lagu-lagu regae, pas dan dapat dinikmati.
”Kau lelah sekali rupanya Rin?”
”Yach... Minggu-minggu ini banyak sekali tugas-tugas yang harus kuselesaikan. Kau tahu kan, pekerjaanku ini bukan pekerjaan yang mengharuskanku selalu duduk di belakang meja? ”
”Percaya.... percaya dan aku tahu kau akan selalu kesepian bila harus selalu duduk di belakang meja. Ya kan?”
”Kau tahu aja.... memang melelahkan sih, tapi melihat mereka bisa lebih mandiri membuatku bersemangat.”
”Jarang lho orang mau memikirkan orang lain seperti kau selalu memikirkan mereka!”
”Mereka butuh orang lain, butuh orang yang bisa membimbing mereka, mensupport mereka. Tanpa itu mereka hanya akan tetap menjadi orang-orang yang terpinggirkan.”
”Tapi cara kau memperhatikan mereka membuatmu lupa diri.”
”Maksudmu?”
”Kau jadi lupa diri Rin, lupa pada hidupmu sendiri. Bercerita tentang mereka selalu membuatmu menggebu-gebu.”
”Sering aku berpikir, untung aku bukan salah satu dari mereka. Betapa aku masih harus bersyukur dengan kehidupanku!”
”Aku banyak belajar darimu Rin. Bahwa manusia hidup harus banyak bersyukur.”
”Betapa tidak Han? Dulu aku selalu merasa jadi anak desa yang minder, rendah diri karena selalu dalam keterbatasan. Tapi ternyata masih ada yang lebih terbatas dari yang kualami.”
”Orang tua kita selalu menyadarkan bahwa hidup tidak selalu harus melihat keatas ada kalanya kita harus melihat ke bawah.”
”Benar yang kau bilang. Dulu aku selalu terobsesi untuk menjadi orang kota yang kaya yang hidup tanpa kekurangan. Belanja suka-suka kemana-mana naik mobil, pegang uang banyak. Tapi aku tak pernah berpikir bahwa bahagia tidak bisa diukur dengan materi.”
”Kau merasa tak bahagia dengan keadaanmu sekarang Rin?”
Aku menerawang jauh. Adakah aku bahagia? Kutanyakan pada hatiku. Wahai apakah kau bahagia dengan keadannmu sekarang Rin? Bahagia? Apa itu bahagia? Benarkah aku bahagia? 
....

No comments:

Post a Comment

Menggapai Cakrawala

Novel Terbaru Imung H Santoso