Friday, March 23, 2018

Menggapai Cakrawala


Novel Terbaru Imung H Santoso 

Pikiran dan Perasaanku


Yang ada dalam pikiran Satria.

”Sat... turun ke lobby... kutunggu...!”
Sat.... Sat... aku berdebar membaca sapaan itu. Hanya seorang yang memanggilku dengan sapaan itu dan itu tak akan pernah bisa kulupakan. Terbayang jelas wajah pemilik sapaan itu, tak pernah bisa kusingkirkan. Sebuah nama terukir di kalbu. Ini pasti kau... yaa aku yakin itu kau.   Ahhh... tidak.... ini hanya illusiku belaka  karena kerinduanku yang tak tertahankan. Tapi aku tak ingin kehilangan harga diri bila harus mencarinya, menemuinya. Sat... sapaan itu kembali terngiang-ngiang di telingaku. Berulang-ulang kututup telingaku dengan kedua tanganku. Tak kunjung reda. Gila.... sudah gilakah aku? 

Kata hatiku.

Kangen? Sementara ini aku tak merasakan apapun. Atau karena aku telah bertemu dengan Satrio maka aku dengan mudah melupakan Elang? Ah ternyata demikian mudahnya hatimu berpaling Rin. Dikala kau memburu Satrio tak juga bertemu kau terima Elang apa adanya. Kini setelah kau temukan kembali Satriomu maka kau begitu saja melupakannya. Tidak aku tidak melupakan Elang.

Pengantar


Kadang kita didera keinginan untuk menggapai mimpi yang senantiasa menggelayut, membayangi kemanapun kita melangkah. Saat mimpi itu menjadi sebuah momok yang menakutkan maka bawah sadar kita yang akan berteriak dan berontak. Sebuah ekspresi bawah sadar akan menyadarkan kita bahwa sebenarnya apapun yang kita pikirkan atau kita impikan pasti akan terungkap lewat segala tingkah laku dan ucapan kita.
  Sungguh sebuah beban yang tak mudah untuk dienyahkan, kala keinginan untuk mengungkapkan apa yang dipikirkan menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak. Sebuah hasrat yang selama ini hanya dinikmati sendiri. Kini saat hasrat yang menggebu itu butuh pelampiasan, arena tulis menulis menjadi sarana yang paling baik. Agar beban yang tersangga tak lagi menjadi beban yang menyesakkan. Karena yang diimpikan telah jadi kenyataan. Ketika alur-alur itu terungkapkan, yang ada tinggal kelegaan. Plong. Tak ada beban.
Tak ada hal yang tak mungkin tak ternikmati selama kita mampu menikmatinya. Insan-insan yang penuh perjuangan dan pengabdian untuk orang-orang yang merasa terpinggirkan. Acungan jempol yang paling pantas  buat kalian. Buat insan-insan yang dengan berani menjadi ujung tombak adanya perubahan, terutama bagi wanita-wanita di daerah-daerah pinggiran yang semula tak pernah terpikirkan. Gerak langkah itulah yang telah menjadi inspirasi buat cerita ini. Dengan kegigihan, dengan keikhlasan ternyata buah yang manis yang didapatkan. Bukan materi tapi nurani.

Daftar Isi


  1. Satrio             
  2. Cari Brongkos Coy        
  3. Pondok Tingal          
  4. Jalan Kita Masih Panjang.          
  5. Pernikahan Itu.         
  6. Bunga-bunga Pinus.      
  7. Maafkan Aku.          
  8. Panggang Balerante. .        
  9. Kutemukan Dia.       
  10. Jangan Patahkan Lagi        
  11. Apa Yang Harus Kukatakan        
  12. Losari.        
  13. Tetapkan Hatimu        
  14. Sejumput Pengakuan 

1. Satrio


Malam ini tak seperti biasa, lesu. Sejak siang aku sudah malas meladeni ajakan teman-teman, bahkan sekedar untuk ngobrol sebentar sebelum pulang ke rumah kami masing-masing. Tadi siang begitu selesai membereskan pekerjaan dan bersiap pulang aku langsung ngeloyor pergi. Pulang ke rumah, membanting badan di kasur tanpa lepas sepatu dan mengganti baju (hal ini jarang sekali kulakukan, karena aku tak mau dibilang jorok dan pemalas, tapi apa boleh buat, sekali ini saja…), sebentar memejamkan mata tapi tak tidur.  Sekedar melepaskan lelah sejenak. Meluruskan punggung.
Selintas wajah ibu hadir dengan senyum arifnya, berganti wajah bapak yang sabar, ponakanku yang centil amat, menggelayut di tanganku. Ah…kau nak…gadis kecil yang  selalu membuatku semakin rindu. Rindu? Rindu apa? Ah entahlah rindu apa, tapi sering kali bila kuingat wajah anak itu selalu saja ada rasa nyeri di dadaku. Memeluknya memberikan rasa nyaman di dadaku. Merindukannya membuatku tersenyum, hingga sering di tengah kepadatan pekerjaan aku menyempatkan pulang ke rumah ibu demi bisa memeluknya. Bocah kecil itu tak sungkan-sungkan memesan sesuatu padaku bila aku akan pergi. Dia paling suka memintaku untuk membelikannya assesoris rambut kalau aku pulang. Dan aku selalu tak bisa menolaknya.
“Budhe, bandoku mana? Budhe jadi beli yang pakai pita merah ada kupunya…?” sekali waktu dia menyerbuku, begitu aku turun dari mobil ketika melihatku pulang ke rumah ibu.
Tangannya yang mungil menggelayuti tangan kananku  sambil berceloteh, mencuri perhatianku.
“Cium Bhude dulu dong… !” kataku sambil berjongkok memberinya kesempatan buat mencium pipiku. Dia menciumku gemas, sambil memelukku erat.
“Eehmm…masih bau…belum mandi ya…?”
“Tadi pagi sudah…”
“Sore belum kan? Ayo mandi dulu, nanti kalau sudah wangi ke kamar Budhe ya..?”
“Tapi sama pita lho Budhe, harus dua lho!” katanya sambil berlalu mencari ibunya.
“Jangan kau manjakan anak itu Rin,” suara ibu di belakangku.
Aku menoleh dan memeluknya, tubuhnya makin kurus saja dalam perasaanku. Ibuku, orang yang paling kurindu. Beliau adalah wanita perkasa. Dengan tangannya beliau berusaha   menghidupi kami dengan segala kemampuannya, tanpa mengecilkan arti kehadiran bapak sebagai kepala keluarga. Tanpa ibu mungkin hidup kami akan lebih menderita.
.........

2. Cari Brongkos Coy....

....
Kalau sudah berdebat kadang kami lupa waktu, Hanylah yang selalu jadi pemenang. Dia paling pintar mencari jawaban dan alasan. Sedangkan aku biasanya jadi  diam karena terpojok dan tak bisa menjawab lagi. Kami berangkat berboncengan, Hany di depan, aku jadi penumpang. Melintasi kota bermobil memang tidak nyaman. Terlalu banyak lampu merah, belum lagi situasi jalan yang ramai. Melintasi jalan Kusumanegara  suasana cukup ramai. Angin yang semilir kunikmati betul walau mataku terasa lebih pedih. Meliuk-liuk  sepanjang jalan di antara pengendara motor yang melintas. Kucubit pinggang Hany ketika dia dengan seenaknya meliukkan motornya terlalu tajam mendahului mobil di depannya. Dia hanya menggeliat dan tertawa.
”Takut Neng?” katanya tanpa mengurangi laju kendaraan.
”Aku belum mau mati...!”seruku mengatasi deru kendaraan.
”Tenang jam terbangku sudah tinggi koq...”
Aku diam saja, ketika kami sudah sampai di perempatan Bugisan barulah Hany mengurangi laju kendaraan. Menyusuri jalan depan Sekolah Menengah Seni, suasana lebih sepi, pedagang tanaman hias duduk santai di depan kiosnya sambil bercanda. Menikung kekiri sebelum jembatan sampailah kami di warung Pak Min.
Di warung yang sederhana itu, pengunjung sudah banyak, terlihat dari parkiran yang hampir penuh, beberapa pengunjung tak keluar dari mobil, hanya membuka pintunya saja. Masuk ke dalam tempat duduk hanya tersisa beberapa. Kami segera memilih makanan dan nasi brongkos tentu saja dan tak lupa teh poci.
Kami makan tanpa banyak basa-basi (karena tuntutan perut yang sudah terlalu lapar), sepiring nasi brongkos kami sikat habis tanpa sisa, dua potong tempe goreng tepung dan tak lupa kerupuk. Belum habis teh poci di depan kami, serombongan pengamen datang dengan lagu-lagu regae, pas dan dapat dinikmati.
”Kau lelah sekali rupanya Rin?”
”Yach... Minggu-minggu ini banyak sekali tugas-tugas yang harus kuselesaikan. Kau tahu kan, pekerjaanku ini bukan pekerjaan yang mengharuskanku selalu duduk di belakang meja? ”
”Percaya.... percaya dan aku tahu kau akan selalu kesepian bila harus selalu duduk di belakang meja. Ya kan?”
”Kau tahu aja.... memang melelahkan sih, tapi melihat mereka bisa lebih mandiri membuatku bersemangat.”
”Jarang lho orang mau memikirkan orang lain seperti kau selalu memikirkan mereka!”
”Mereka butuh orang lain, butuh orang yang bisa membimbing mereka, mensupport mereka. Tanpa itu mereka hanya akan tetap menjadi orang-orang yang terpinggirkan.”
”Tapi cara kau memperhatikan mereka membuatmu lupa diri.”
”Maksudmu?”
”Kau jadi lupa diri Rin, lupa pada hidupmu sendiri. Bercerita tentang mereka selalu membuatmu menggebu-gebu.”
”Sering aku berpikir, untung aku bukan salah satu dari mereka. Betapa aku masih harus bersyukur dengan kehidupanku!”
”Aku banyak belajar darimu Rin. Bahwa manusia hidup harus banyak bersyukur.”
”Betapa tidak Han? Dulu aku selalu merasa jadi anak desa yang minder, rendah diri karena selalu dalam keterbatasan. Tapi ternyata masih ada yang lebih terbatas dari yang kualami.”
”Orang tua kita selalu menyadarkan bahwa hidup tidak selalu harus melihat keatas ada kalanya kita harus melihat ke bawah.”
”Benar yang kau bilang. Dulu aku selalu terobsesi untuk menjadi orang kota yang kaya yang hidup tanpa kekurangan. Belanja suka-suka kemana-mana naik mobil, pegang uang banyak. Tapi aku tak pernah berpikir bahwa bahagia tidak bisa diukur dengan materi.”
”Kau merasa tak bahagia dengan keadaanmu sekarang Rin?”
Aku menerawang jauh. Adakah aku bahagia? Kutanyakan pada hatiku. Wahai apakah kau bahagia dengan keadannmu sekarang Rin? Bahagia? Apa itu bahagia? Benarkah aku bahagia? 
....

Menggapai Cakrawala

Novel Terbaru Imung H Santoso